Tujuan kegiatan

Kegiatan ini memiliki beberapa tujuan yang mengarah kepada penyelenggaraan Manajemen Talenta yang optimal untuk mendukung Human Capital Development Plan dan menyukseskan implementasi Smart Governance pada instansi pemerintah. Secara spesifik tujuan tersebut adalah sebagai berikut.

1)    Mengidentifikasi tingkat kemampuan pegawai di instansi baik potensi dan kompetensi mereka dalam merancang kebutuhan dan rencana pengembangan ASN

2)    Membantu pengelola sumber daya di instansi dalam mendeteksi adanya kesenjangan kompetensi yaitu ketidaksesuaian antara tingkat kompetensi dan standar kompetensi jabatan

3)    Memberikan informasi terkait aspek-aspek psikologis yang dibutuhkan dalam pemetaan ASN dalam kegiatan pengelolaan sumber daya manusia

BENTUK KEGIATAN

Bentuk kegiatan yang dilakukan adalah penyelenggaraan tes yang mengukur Kompetensi Manajerial dan Sosiokultural, akan tetapi juga dapat ditambahkan dengan pengukuran pendukung

1)    Potensi  Talenta. Potensi talenta memuat tiga dimensi yaitu kapasitas intelektual, karakteristik kepribadian serta komitmen motivasional. Tes yang diselenggarakan mengukur 8 potensi sesuai dengan Permen PANRB 3/2020 yaitu kemampuan intelektual, kemampuan interpersonal, kesadaran diri, kemampuan berpikir kritis strategis, kemampuan pemecahan masalah, kecerdasan emosi, kemampuan belajar cepat dan mengembangkan diri, serta motivasi dan komitmen.

2)    Kompetensi Manajerial dan Sosiokultural. Kompetensi ini berdasarkan PANRB 38/2017 memuat 9 dimensi kompetensi yaitu integritas, kerjasama, komunikasi, orientasi pada hasil, pelayanan publik, pengembangan diri dan orang lain, mengelola perubahan, pengambilan keputusan dan perekat bangsa.

Landasan kegiatan

Pengertian, ruang lingkup, tingkatan-tingkatan serta indikator mengenai kompetensi dalam pengelolaan ASN diatur dalam Permen PANRB 38 Tahun 2017. Pada peraturan ini, kompetensi ditekankan pada dimensi manajerial dan sosiokultural. Pada peraturan ini kompetensi dibagi menjadi tiga bagian. Kompetensi Teknis memuat pengetahuan, keterampilan, dan sikap/perilaku yang dapat diamati, diukur dan dikembangkan yang spesifik berkaitan dengan bidang teknis jabatan. Kompetensi Manajerial memuat pengetahuan, keterampilan, dan sikap/perilaku yang dapat diamati, diukur, dikembangkan untuk memimpin dan/atau mengelola unit organisasi. Kompetensi Sosial Kultural didefinisikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan sikap/perilaku yang dapat diamati, diukur, dan dikembangkan terkait dengan pengalaman berinteraksi dengan masyarakat majemuk dalam hal agama, suku dan budaya, perilaku, wawasan kebangsaan, etika, nilai-nilai, moral, emosi dan prinsip, yang harus dipenuhi oleh setiap pemegang jabatan untuk memperoleh hasil kerja sesuai dengan peran, fungsi dan jabatan.

Penyelanggaraan Kegiatan

 Kegiatan pengukuran dilakukan dengan menggunakan Computer Assisted Test (CBT) yang diikuti oleh peserta tes secara bersamaan. Pelaksanaan pengukuran dapat dilakukan di sebuah laboratorium komputer yang sudah menyediakan komputer dengan aplikasinya, sebuah ruangan tanpa komputer karena masing-masing peserta membawa laptop, atau penyelenggaraan secara online dengan penerapan prosedur test proctoring sehingga peserta tidak dapat melakukan kontak dengan orang lain.

Pembiayaan Kegiatan

Pembiayaan untuk penyelenggaraan kegiatan ini ditanggung oleh instansi klien PT BCS. Biaya kegiatan dihitung berdasarkan jumlah pegawai yang diikutsertakan dalam tes. Biaya pelaksanaannya dibebankan dengan ukuran per orang peserta untuk tes secara lengkap. Dalam satu waktu pelaksaan tes, PT BCS akan mengirimkan satu orang tester atau instruktur tes yang akan memandu jalannya pengadministrasian tes di lokasi yang telah ditentukan oleh instansi klien. Instansi klien tidak harus menyelenggarakan ketiga tes yang disediakan. Instansi klien dapat memilih satu atau dua tes yang tersedia dengan pengurangan biaya. Potongan biaya sangat memungkinkan untuk diterapkan tergantung dari berapa orang peserta yang akan didaftarkan untuk mengikuti tes.

Pelaporan Hasil Profil Kompetensi

BARCHART

Interpretasi terhadap skor hasil pengukuran dilakukan untuk setiap dimensi kompetensi. Contoh berikut ini menunjukkan interpretasi terhadap skor yang didapatkan dari pengukuran kompetensi pada dimensi integritas yang telah diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu rendah, sedang dan tinggi. Secara umum skor yang tinggi dalam tes kompetensi menunjukkan bahwa pegawai yang bersangkutan mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan mempertimbangkan aspek-aspek lain yang tidak hanya benar dan salah. Misalnya, mereka mempertimbangkan sejauh mana tindakan yang mereka lakukan efektif dan efisien dalam menyelesaikan masalah, seberapa dalam atau luas dampak dari keputusan yang mereka ambil, relevansinya dengan budaya dan konteks instansi tempat mereka bekerja atau pertimbangan berdasarkan minimalisasi dampak negatif dalam skala yang lebih besar. Intinya, skor yang tinggi pada kompetensi menunjukkan efektivitas mereka dalam menyelesaikan masalah selain pertimbangan benar dan salah.

TABEL HASIL GAP KOMPETENSI

Tes yang dilakukan menghasilkan informasi berupa skor tes berdasarkan dimensi yang diukur. Interpretasi tes berkaitan dengan bagaimana memaknai skor tersebut terkait dengan informasi mengenai kemampuan yang diukur. Setelah skor tes dikumpulkan dan dibandingkan dengan standar atau norma yang relevan, tahap interpretasi dimulai dengan mengidentifikasi tingkat skor tersebut. Aktivitas ini mencakup mengenali kekuatan atau kelemahan tertentu yang tercermin dalam skor atau hasil yang diperoleh. Misalnya, apakah ada area tertentu di mana individu menunjukkan keunggulan yang signifikan, atau apakah ada aspek yang memerlukan perhatian lebih lanjut untuk diperbaiki. Selain itu, penafsiran hasil tes juga melibatkan penghubungan data yang diperoleh dengan konteks spesifik individu, seperti latar belakang, pengalaman, atau tujuan mereka. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, hasil dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang apa yang diungkapkan oleh hasil tes tersebut dalam konteks individu yang diuji.

Hasil interpretasi terhadap hasil tes akan memberikan implikasi praktis dari hasil pengukuran yang dilakukan. Termasuk di dalamnya adalah mempertimbangkan bagaimana hasil tes dapat memengaruhi pengambilan keputusan atau rencana ke depannya. Misalnya, dalam konteks pendidikan, hasil tes mungkin memberikan petunjuk tentang perluasan program belajar atau bantuan tambahan yang diperlukan. Di sisi lain, dalam konteks seleksi karyawan, hasil tes dapat membantu dalam menentukan kesesuaian kandidat dengan posisi tertentu atau menyediakan basis untuk pengembangan keterampilan lebih lanjut. Dengan demikian, tahap penafsiran hasil tes tidak hanya mencakup pemahaman tentang kinerja individu, tetapi juga memberikan arahan praktis untuk tindakan selanjutnya yang dapat diambil berdasarkan hasil tes tersebut.

Kelebihan Tes Kompetensi BCS

BANK SOAL

Butir-butir soal yang mengukur kompetensi BCS jumlahnya cukup banyak dan telah dirakit menjadi beberapa tes paralel sehingga antara satu peserta dan peserta lain tidak dapat bekerjasama dalam penyelesaiannya

KUALITAS TERUJI

Butir-butir soal butir-butir soal yang telah dikembangkan telah divalidasi secara kualitatif maupun kuantitatif oleh pakar dalam bidang pengelolaan kepegawaian dan para ahli di bidang pengukuran dan psikometrika

PENYAJIAN TES

Penyajian tes kompetensi dapat dilakukan dengan menggunakan aplikasi CAT yang telah disediakan oleh BCS sehingga pengukuran dapat dilakukan secara masif pada banyak peserta tes dalam waktu yang asma

LAPORAN HASIL

Laporan hasil dari proses pengukuran disajikan secara lengkap yang tidak hanya menampilkan skor tes namun juga interpretasi terhadap skor tersebut serta narasi dari pelevelan kompetensinya